Tampilkan postingan dengan label Touring and Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Touring and Adventure. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Februari 2020

The Lost Country Of Ciletuh 8-11



The Last and The Lost Country
Bagian ke 8 (Kembali ke Penginapan)
Tengah hari sudah, tentu perut sudah merasakan juga sama sepertiku. Sudah pengen makan. Untuk sementara, masih bisa di ganjel beberapa makanan ringan yang ada di warung-warung yang tersedia di Puncak Darma. Ada bala-bala, ada gehu, ada sangray kacang dll.

Kamipun turun lah kembali ke Palangpang yang tadi kita dapat saksikan dari Puncak Darma. Kita akan kembali ke lembah sana, ke sisi pantai yaitu ke penginapan kita...Batman Forever.

Disini perasaan kita adalah sebagaimana layaknya para pelancong. Suasana kepariwisataan terasa kental disini. Pemandangan indah dimana-mana. Kita akan betah berlama-lama disini. Ingin tentu untuk bisa mengunjungi nya lagi jika nanti sudah kembali.
Karena....
Aku ke sini untuk kembali lagi.
Maybe, insya Allah.

The Lost Country Of Ciletuh 6&7

Bagian ke 6 (Menunggu Sarapan Pagi mau ke Curug Cimarinjung)
Sudah saatnya untuk pergi ke pantai. Namun nasi kuning tentu akan segera datang. Jadi bersabar dulu, orang sabar disayang Tuhan. Assabrun jamiil.

Untuk menunggu itu, ada baiknya kita jalan-jalan pagi dulu. Beberapa suasana dipagi hari tentu gak bisa ditemukan disiang hari. Terutama vitamin D dan juga kesegaran udaranya. Haahhh....udaranya segar sekali bisa menembus kepada seluruh ruang dadaku. Nikmat manalagikah yang akan kita dustakan...?.
Gak boleh lama-lama jalan paginya sebab kita punya acara berikutnya, jam tujuhan sudah harus kembali ke homestay. Sebab nasi kuning tentu sudah ada disana.

Kalau sudah makan tuh suka lupa menulis. Makan nasi kuning yang tak seberapapun tetap cukup untuk pagi yang baru saja dimulai. Dan tak lama lagi, kamipun cabut semuanya dengan membawa semua barang bawaan. Rupanya kita akan pindahan lagi. Sudah dapat penginapan yang lebih representatif disana, tepat di bibir pantai Ciletuh. Masih ada satu malam lagi disini, tentu penginapan sudah harus definitif sejak sedini mungkin.

The Lost Country Off Ciletuh 4&5



Bagian ke 4 (Cari Penginapan)
Malam semakin terasa, suasana pesisir semakin terasa pula. Ada perbedaan kandungan udara, tiupan angin, dan juga kelembaban. Itu sudah otomatis dibedakan oleh tubuh kita. Udara pegunungan tinggi, udara pegunungan menengah dan udara pesisir itu terasa bedanya.

Ciletuh sudah didepan mata, rombongan kembali terpecah dua. Kelompok depan, dan kelompok siput.com. sehingga tadi kelompok belakang ini sampai salah jalan yang harusnya belok putar kekiri malah lurus entah kemana. Jadinya kami harus memutar balik lagi.

Kelompok pertama sudah menunggu di Panenjoan. Ini adalah satu tempat yang mana kita bisa melihat pantai palampang dari kejauhan. Baru juga menghela nafas kita harus sudah berangkat lagi. Tujuannya agar segera bisa makan malam, sholata dan juga istirahat.

The Lost Country Of Ciletuh 3


Bagian ke 3 (Tegalbuleud - Jampang)
Dari tegal buleud tadi, kesini ke hutan-hutan yang gelap adalah seperti misi silent, misi rahasia untuk menyergap Belanda yang sedang menyerang Ujung Genteng sana. Sepi sunyi senyap tak boleh banyak bersuara, semua kami sedang begitu khusu’ berjalan menembus tempat-tempat, lembah, bukit dan lain-lain itu selangkah demi selangkah, sekilo, du kilo meter dst.

Hutan Jampang yang terkenal masih cukup angker dimalam hari, karena letaknya yang terpencil jauh dari perkampungan adalah berbahaya jika bermotor ke sini secara sendirian. Tapi berhubung kami beramai-ramai maka tak ada rasa ciut diantara kami walaupun juga keadaan yang senyap itu kami rasakan seperti suatu perjalanan pasukan Jendral sudirman dalam bergerilya menghadapi agresi militer Belanda dan sekutu.

Wah, itulah yang khusus penulis rasakan, lumayan penuh teka-teki juga sebab gak tau juga kalau didepan sana ada segerombolan babi hutan atau mungkin macan kumbang yang sedang kebetulan lewati jalan. Ah kau sukanya bikin cerita tuh bikin jadi serem...!!.

Tapi betul, walaupun beramai-ramai tapi kan bawa motor sendiri-sendiri, apalagi posisiku seringnya berada di paling belakang. Terasalah suasana mencekamnya itu. Apalagi kalau teringat pemutaran film G-30 S PKI wah serem lah pokoknya.

The Lost Country Of Ciletuh 2



Bagian ke 2 (Kesasar di Tanggeung dsk)

The lost Country
Tak lama sampailah kami di perbatasan Tanggeung. Sebuah kecamatan yang ada di Cianjur Selatan. Kotanya khas sebagi kota kecamatan yang kecil namun cukup resik. ini adalah tempat masyarakat di daerah untuk bertransaksi ekonomi. Inilah termasuk garda terdepan republik ini. Dikota kecil seperti ini  ada perputaran uang, barang maupun jasa. Ya, begitulah cara rezeki itu berputar, sebagaimana juga di banyak tempat dan daerah lainnya dimuka bumi ini.

Sebaiknya berhenti dulu untuk membeli bendera kecil agar bisa dipasang di motor. Suasana ini kan begitu terasa dalam rangka merayakan peringatan kemerdekaan Indonesia yang dari belenggu penjajahan bangsa lain. kita tentu harus ikut mensyukurinya, merasa gembira dan semoga nikmat kemerdekaan ini tidak dicabut oleh Allah SWT, aamiin.

The Lost Country Of Ciletuh 1

Jalan-Jalan ke Bumi Yang Dianggap Hilang


The lost and the last Country
17 agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita,
hari merdeka nusa dan bangsa...
Hari lahirnya bangsa Indonesia.
Mer....de....ka.
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap, setia, tetap sedia....
membela negara ki..taaa...


Kita tetap, setia, tetap sedia...
Mempertahankan Indonesia....

Merdeka....!!!

Bagian ke 1 (Perjalanan ke Cianjur)
Pagi yang bersemangat kembali datang dengan cepat. Bandung yang lengang kembali kepada hari-harinya yang sibuk. Setidaknya sibuk bagi kami yang bersiap untuk pergi ke Ciletuh. Ada sekira 40 orang.

Minggu, 09 Februari 2020

Lembah Naringgul (100 Curug)

Bolehkah aku ke Naringgul...?
(Lagi....?)

Baiklah kalau boleh. Bolehlah kalau baik.
Pekerjaan memang kadang gak tahu ada dimana, bermain juga kadang kita gak bisa duga hendak kemana. Kalau antara bermain dan bekerja harus satu jalur juga gpp, itu namanya kebetulan atau pembetulan juga bisa. Tergantung dari sisi mana kita menilainya.


Alhamdulillah bahwa Allah SWT masih memberi kita air hujan, dengan air hujan ini maka tumbuh beraneka macam pohon, tanaman, sayuran, padi, jagung, kopi, durian dan kelapa.

Don't Judge Cisewu Only by The Cover


Don’t judge a book by the cover, don’t judge by the cover...!!

Kira-kira begitu.
Emang kau pikir Cisewu itu kecil banget ya...?. emang kau pikir Cisewu itu Cuma begitu-begitu aja ya...?.
Ya, kira-kira begitu juga cara kita menilai suatu tempat, beberapa keindahan seringkali tersembunyi adanya.
Cisewu juga.
Don’t Judge Cisewu only by The Cover.

Pemandangan yang Indah di Perkampungan Cisewu
Keindahan-keindahan panorama Cisewu mengingatkan kita kepada suasana yang mungkin pernah ada dalam pikiran, atau bahkan mungkin tak pernah terlintas sebelumnya. Tetapi pada dasarnya itu adalah sesuatu yang indah, damai, aman, tentram dan sentosa kalau disingkat...idamants

Aku Belum Selesai dengan Diriku

Habis, kalau tidak jalan-jalan rasanya ada sesuatu yang kurang. Kurang asyik.

Entahlah, sebenarnya sudah terasa bosan juga jalan-jalan itu. Tetapi kalau cornering atau touring kayaknya itu adalah hobby. Jadinya sampai dengan saat ini aku belum bisa mengerem 100% untuk tidak bermotor-motoran. Entahlah nanti, entahlah jika nanti jika sudah merasa cukup bermain dengan adrenalin.

Pangandaran, Kepada Cintaku Yang Sesungguhnya

KE PANGANDARAN AKU KEMBALI
(Kepada Cintaku Yang Sesungguhnya)
16-18-2018

Pangandaran “deui wae”....

Tahun kemarin sampai tiga kali ke sini, sekarang di awal tahun ini sudah kesini “deui wae”....!, ride to Pangandaran. BOSEN.....??

...Bahkan “deudeuieun”...!.

Pantai pangandaran yang paling indah ini, sekarang sudah ada perubahan. Yang tadinya banyak berjejer pedagang informil di sepanjang pantai barat, sekarang sudah tidak ada lagi. Mereka sudah ditampung di dalam pasar-pasar yang permanen dan lokasinya tidak lagi ada diarea pantai. Sehingga wajah pantai Pangandaran kini sedikit “pangling”.



Barangkali jika dikelola oleh ahli penataan kota/urban design, ini akan lebih bagus lagi. Akan menjadi kawasan wisata yang jauh “cetar membahana”. Insya Allah.


Baru penataan sedemikian ini saja, pangandaran sudah indah apalagi kalau lebih komprehensif dan lebih profesional.Bukan apa-apa, hanya Rindu Jabar Juara saja.Mendambakan Jawa Barat yang mendunia (berkelas Internasional) lagi.


Itu bukan hanya mimpi, itu bukan hanya khayalan jika itu ditangani oleh yang sangat kompeten dalam bidangnya. Sudah terbukti di kota Bandung misalnya, kota yang dulu amburadul gak karu-karuan, sekarang sudah kembali resik rapih dan dicintai lagi. Alun-alunnya rapih, jalan dan trotoarnya rapih. Taman-taman yang terbangun, tertata dan dikelola (tidak ditelantarkan lagi) mempercantik kota Bandung yang berbunga-bunga kembali. Padahal kota Bandung dan kota lainnya sama, sama punya anggaran, sama punya APBD. Tetapi hasil penataandi kota Bandung sungguh berbeda. Ada terlihat hasil kerjanya, ada terlihat pembangunannya, dan itu berlangsung tiada hentinya sepanjang tahun dan dari tahun ke tahunnya. Berharap itu bisa menular dahsyat terhadap pembangunan dan kemajuan di provinsi Jawa Barat tercinta ini. Semuanya..aamiin
  
Pangandaran sungguh mempesona, sejauh ini sepengetahuan penulis Pangandaran inilah yang terindah diantara keindahan lainnya di Jawa Barat. Terutama kalau bicara soal pantai dan sungai. Mungkin saja ada lainnya yang sama indah, tapi disini sungguh sangat lengkap. Indah sekali.

Kali ini yang paling menarik bagi penulis adalah sunrise di pantai timur. Itu sungguh keajaiban alam yang mempesona. Dan di seberang pantai sana terlihat dari kejauhan secuil pantai yang ekslusif nampaknya cukup menggoda untuk dikunjungi suatu hari nanti. Kunjungan kali ini masih ada agenda lainnya yang sudah terencana jauh sebelumnya.

Disini kali ini penulis akan merasa cukup jika bisa mengexplore pantai timur saja. Ini sungguh tentu sudah berbeda jika dibanding beberapa puluh tahun yang lalu. Pastilah sudah berbeda.

Dulu juga pantai timur ini hanyalah pantai untuk nelayan atau paling tidak untuk perlombaan layangan. Namun sekarang sudah bukan itu saja. Sudah lebih tertata nampaknya.

Kembali ke masa sekarang. Pangandaran kepada cintaku yang sesungguhnya.

Pantai timur Pangandaran ini ternyata punya kelebihan lainnya, ada permainan banana boat dan semacam itu, juga ada kegiatan nelayan yang menangkap ikan itu, dan semakin kekiri keutara sana suasana pantai makin sepi dari pengunjung. Tetapi di sepanjang pantai timur ini juga menawarkan sesuatu yang menambah kawasan Pangandaran menjadi semakin lengkap Indahnya. Itulah mengapa dikatakan bahwa kabupaten Pangandaran ini tercipta untuk berwisata. Terima kasih Tuhan, kita ucap syukur alhamdulillah.



Body rafting at Citumang.
Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Jauh dimata, dekat dihati. Kadang ada Rindu yang menyelimuti, Rindu adalah kangen yang menderu. Ada rindu pertanda adanya cinta. Ada cinta pertanda ada kasih dan sayang. Engkau tak sanggup lagi bila harus berjauhan dari yang engkau cintai. Maka berdasar cinta itulah kebahagiaan akan melingkupi kehidupan kita. Cinta tanah air, cinta Pangandaran, cinta Jawa Barat dan cinta-cinta lainnya. Hanya orang yang penuh cintalah yang bisa berkorban dan berjuang demi apa yang dicintainya.


Jika engkau harus memilih, maka pilihlah mereka yang punya cinta. Sebab tanpa cinta, engkau akan ditinggalkan. Tanpa cinta bahkan engkau hanya akan dimanfaatkan. Aku hanya Rindu Jabar Juara ke-1. Rindu menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, repeh rapih heunteu ripuh. Silih asih, silih asah, silih asuh. Itulah semboyan kita.
Bahwa ada Rindu pertanda ada cinta. Mari kita raih cinta bersama Rindu diantara kita. #Pangandaran i love you too....!

Menjelang siang ini, rencana kami selanjutnya adalah ber-body rafting di Citumang Valley. Dua tahun yang lalu aku sudah kesana, tapi sekarang tentu berbeda. Berbeda karena kali ini rencananya akan benar-benar turun ke sungai untuk menikmati alirannya, untuk merasakan sensasinya bermain-main dengan air yang hijau jernih nan mengalir deras. Air yang jauh dari puncak-puncak gunung mengalir kelembah Citumang menuju laut Pangandaran. Itulah Citumang.

Ada dua jalur masuk ke lokasi, disana tertera petujuk arah jika lurus itu ditulisnya Area Parkir 1, dan jika belok kanan itu ditulis Area Parkir 2. Lalu rombongan menuju ke lokasi parkir 2, tapi gak dikira ini ternyata masih cukup jauh mungkin sekira dua kilometeran.
Dari tempat ini, jalannya masih dibiarkan alami, itu yang aku harapkan. Kalau menuju tempat seperti ini memang cocoknya jalannya pun tetap alami biar terasa adventurnya. Kalau jalan mulus sih sudah biasa gak usah semua harus beraspal, gak usah semua harus berhotmik. Ingat itu.



Padahal aku pernah kesini, tapi rasa-rasanya aku masih belum hapal lokasi ini. Ini terlihat berbeda, ini mungkin bukan lokasi yang sama dari Citumang. Kok aku gak bisa mengingat Citumang yang dulu disini, diarea parkir ini. Ya mungkin, dulu kami di area parkir yang satunya lagi.


Persiapan untuk body rafting pun dimulai dengan berphoto bersama, satu tiga kali jepret. “Goorilla...!!”.....jepret lagi. Tunjuk ke arah kamera, jepret lagi. Sudah itu masuk lah melalui gerbang Citumang Valley ini, dan barulah kusadari ini lokasi yang sama seperti dua tahun yang lalu, ya ini memang Citumang “tea”. “Asa linglung tadi mah”.

Nyeker saja, hanya berpakaian kolor, baju dan rompi pelampung. Kami berjalan menyusuri jalan setapak menuju garis start. Sungai Citumangnya terlihat ada disisi kiri kami, kebetulan airnya sedang jernih walau debitnya gak sebanyak dua tahun lalu. Tak apa, ini masih tetap Citumang yang indah.


Sampailah kami di ujung lembah Citumang, ditempat terapi ikan dan tempat untuk kegiatan permainan “management team building” atau apa namanya. Disana masih begitu banyak antrian dari berbagai rombongan, maka sekali lagi kita akan berphoto....”goorilla...!!”, begitulah triknya supaya didapat hasil jepretan yang ekspresif. Sementara menunggu rombongan lainnya menuruni sungai itu menuju area start di mulut “guha”. Sungai Citumang ini memang berasal dari aliran sungai yang menembus bukit berbatu, sehingga membentuk suatu terowongan atau gua. Menurut penuturan guider, itu gua Citumang gak bisa disusur ke ujungnya sebab mata air nya muncul dari bawah, mungkin seperti leher angsa di toilet. Alur goanya turun dulu baru kemudian naik lagi menuju lembah Citumang ini, kurang lebih begitulah.

Dan memang guanya terlihat semakin mengecil, namun dalam dan juga semakin masuk ke dalam semakin gelap tentunya. Ngeri juga sih.

Dimuka gua ini, airnya berkumpul membentuk cerukan yang sangat dalam, entahlah mungkin 12 meter sih katanya. Atau berapa aku lupa. Dan di dinding guanya, dari atas sana adalah lokasi untuk jumping...terjun bebas. Wah itu cukup menantang adrenalin, aku akan mencobanya. Tapi ingat kalian harus teguh pendiriannya, sebab jika sudah berada diatas sana tak ada jalan keluar lainnya yang lebih aman selain dari terjun. Ada seorang peserta diatas sana yang nampaknya keburu ngeri, kalau dilihat dari bawah memang ini nampaknya biasa saja, tetapi jika sudah kau berada diatas sana...itu adalah “leuwang coy...”, hanya tujuh meter sih, tapi silahkan coba sendiri tapi jangan coba-coba kalau kurang nyalinya ya...?..he he.

Alhamdulillah tanpa menunggu beliau terjun, biarlah aku duluan. Satu, dua, tigaaa....aha aku masih belum tega....
Satuu, duaa, tigaa.....hmmm sekaranglah saatnya....akupun terjunlah............”omg” serasa hilang sebagian nafasku ini, “ngaleunyap coy....!!”, tubuhku mendahului rohku.......melayang itu rasanya begitu coy...!...ngeri-ngeri...maknyos.
Alhamdulillah selamat....!

Itulah mungkin ucapan selamat datang ala rafting Citumang. Segaaaaaar.....!

Track Citumang ini hanya 200 meteran. Kata pemandu. Senti meter demi senti meter kami susuri Citumang ini dengan perasaan yang menyenangkan semuanya. Ada satu seluncuran kecil, itu tepat dimuka gua, kemudian jalan sedikit menuju loncatan curug pertama. Mungkin satu meter setengah tingginya. Kami semua melompatinya....berenang lagi dengan cara mengambang, mengikuti arus sungai yang ternyata cukup besar. Mantaaap “deui wae”....!, kemudian menuju curug berikutnya....terjun dan kemudian berelantungan kepada tambang, menirukan cara tarzan atau gaya spiderman. Dua kali percobaan sudah cukup, kamipun lanjut kepada riak selanjutnya, menuju cerukan berikutnya, dan membentuk rangkaian kereta air berikutnya....mantap surantap, terasa itu semakin mempererat perkawanan kami semua....amazing serunya, bercanda sepanjang ceritanya....my trip is may adventure....cocoklah....!


Masuk ke rest area untuk ngopi atau lainnya. Gugur satu peserta karena kedinginan. Ya sudah sisanya masih terlalu sayang jika harus berhenti disini. Lanjuuut.....!

Cerukannya semakin panjang, dan ternyata ini adalah cerukan terakhir...ini adalah “leuwi” terakhir.
Ada satu area untuk lompat lagi, yaitu dari sebuah pohon yang sudah dipasangi tangga dari tali tambang. Itu tingginya 10-12 meter, tergantung dari dahan mana mengukurnya.

Beberapa meter didepan itulah garis finish nya...tapi rasanya ingin kembali ke belakang menikmati track Citumang ini beberapa kali lagi.

Hah....demikianlah cerita pandangan mata kali ini dari Citumang Valley...sampai jumpa di my trip berikutnya.....ciao.....!!!

Say no to drug, say no to illegal loging...!!, save the earth...!

Solo Riding to Rancabuaya

Kembali ke Rancabuaya
(solo riding) 


Kemarin adalah tanggal 31 Desember 2017, tentu hari ini adalah tanggal 1 Januari 2018. Tapi bukan itu maksudnya.


Kemarin, duabelas orang kami pergi ke sini, ke kawasan terindah ini. Pemandangannya juara, udaranyapun juga juara. Sangat memanjakan mata dan juga sangat menyegarkan rasa. Tapi dalam sanubari terdalam hatiku, aku menggerutu. Bukan karena satu dan lain hal, bukan juga karena pertengkaran atau kebencian. Semata karena satu hal yang terasa kurang yang tidak bisa diraih bersama mereka, temanku dari CCB. Tetapi demi kebersamaan tak bolehlah kita mengedepankan ego, kita akan ikuti kehendak mayoritas dan aku harus mencari sisi lain dari rasa senang itu. Maka rasa senang itu tentu akan kamu dapatkan juga.


Tetapi memang itu sungguh tak memenuhi hasrat dalam sanubariku. Apakah itu....?,
Ya, dalam hati kecilku sesungguhnya aku ingin melanjutkan riding sampai ke pantai. Itu akan sangat indah, itu akan sangat menyenangkan. Tetapi mereka temanku tak memiliki rencana yang sama denganku. Jadi hanya cukup sampai di cukul ini. Ya sudah aku harus mengalah. Kalau aku ajak lanjut ke Rancabuaya, aku khawatir gak semua mereka bersedia, sehingga itu akan sangat tidak elok jika sebagian harus kembali ke Bandung sementara sebagian lainnya dengan egoisnya melanjutkan ke Rancabuaya misalnya. Ya sudah itulah kesepakatan yang ku tetapkan dalam sanubariku sendiri. Biarlah mungkin siang nanti aku akan pergi sendiri saja, tetapi tetap aku harus keBandung dahulu mungkin ada teman kantorku yang bersedia bareng riding to Rancabuaya. Hendak aku hubungi via watchup tetapi tak ada balasannya, kelihatanya dia gak aktif. Cara satu-satunya adalah kembali keBandung.


Hal yang memuaskan aku bersama CCB kali ini adalah riding rame-rame, terasa menyenangkan dan beda. Apalagi ada kesempatan kami untuk saling mendokumentasikan momen ridingnya, jadinya itu adalah karya fotography yang sangat bagus sekali. Bagus buat DP dalam FB ku.

Aku sangat beruntung bisa berteman dengan mereka, seribu teman itu tak cukup, satu musuh itu terlalu banyak.

Esa hilang, dua terbilang. Patah tumbuh hilang berganti. Gugur satu tumbuh seribu. Merdeka.....!!!

Semangat kebersamaan itu adalah selalu penting adanya. Satu ikat lidi akan mampu menyapu seluas halaman dan sepanjang jalanan. Tetapi sebatang kara lidi itu hanya mampu menjadi sampah.
Maka marilah kita bersatu dan tinggalkan perceraian. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Bersama kita kuat, berpisah kita merindu. Eaaa......!!

Hari tak lah masih pagi, ini sudah jam sebelas siang namanya. Aku baru sampai di Banjaran Bandung Selatan. Antara lanjut ke Rancabuaya atau kembali lagi ke Bandung. Galau karena hari sudah terik dan aku masih di Bandung. Hmm...padahal sanubariku menghendaki pergi riding ke tempat yang ingin ku tuju itu Rancabuaya.

Keputusan harus diambil, maka kutegaskan kan kulanjut perjalanan ini ke Rancabuaya, walau harus pulang sampai larut malam. Tak apa asal masa liburan kali ini tidak menjadi hanya menumpang lalu. Aku harus menemukan pengalaman baru, aku harus menemukan cerita baru.

Ridingpun berlanjut.....jalanan berkelok menuju Pangalengan ini kembali aku lalui. Perkebunan teh Cukul itu pun kembali aku lalui.  Baru kemarin aku kesini, sekarang sudah kembali lagi. Gpp, karena indahnya tidak pernah berkurang, gpp karena mantapnya cornering bisa dirasakna kembali. Kalau balapan resmi, kita gak punya sirkuit, lalu dimanakah lagi kita akan membesut motor kita..?
Maka riding adalah jawabannya. Seringkali saat dijalanan kita bertemu rider lain yang bisa kita ajak balapan. Itu sudah cukup untuk melepas adrenalin, itu sudah cukup untuk merasakan sensasi racing. Yah ini memang sedikit berbahaya sebab banyak pengguna jalan lainnya yang satu aspal dengan kita memiliki tujuan masing-masing dan itu menambah ketidak pastian dijalanan.

Ya sudah, cukuplah memacu kendaraan dengan menjaga batas keselamatan masing-masing. Gak boleh egois, gak boleh ugal-ugalan. Jalan ini penuh ketidak pastian dan tanpa instrumen atau .......  alat safety yang memadai.

Jalanan menuju pangalengan itu masihlah ramai oleh pengendara, mungkin kebanyakan dari short holiday. Hanya untuk jarak pendak ke Pangalengan dsk. Disana tentu ada banyak tempat untuk berwisata, ada air panas Cibolang, ada perkebunan teh Malabar, ada situ Cileunca, ada wahana wisata lainnya. atau sekedar untuk menikmati susu murni KPBS Pangalengan dengan aneka rasa juga ada, atau untuk membeli dodol dan karamel susu. Atau juga pergi ke perkemahan gunung Puntang, disini banyak sekali alternatifnya, bahkan bagi yang suka kegiatan rafting juga ada. Atau sekedar untuk menikmati teh malabar dan kopi Parahyangan...semua itu ada sisini.


Ditugu persimpangan Pangalengan jika ke kiri kesana adalah kota kecamatan dan lanjut ke Cibolang, kalau ke kanan adalah ke Cileunca dan juga perkebunan teh Cukul yang fenomenal itu. Akupun belok ke kiri ke arah Cukul ini. Indah kembali kepada indah. Sendiri tak harus menjadi masalah, sendiri tak boleh menjadi soal.

Cukul aku kembali kepadamu. Cukul engkau telah membuatku begitu indah, Cukul....engkau adalah keindahan itu sendiri, engkau adalah kenangan itu sendiri. Engkau adalah masa lalu, engkau adalah kemarin, hari ini dan juga esok nanti. I’m come in....!


Nikmat mana lagi yang harus aku ingkari, syukur itu tak pernah akan berhenti selamanya. Walau suka dan duka. Satu yang terindah adalah kembali kepada istighfar, kembali kepada dzikir. Astaghfirullah, subhaanallah walhamdulillahi allahu akbar, la haula wala quwwata illa billahil’Aliyyil ‘Aadziim. Emang puncak keindahan itu ada dalam mengingatNya. Istighfar adalah memohon ampunan atas semua salah dan khilaf kita, alhamdulillah adalah hanya memujiNya, Subhaanallah, Allah maha Suci, Allahu akbar, Allah lah yang maha Besar. Tak ada upaya dan tak ada kekuatan melainkan semua berasasl dariNya. Diri ini lemah, diri ini tak berdaya...Saat lemah saat sakit, baru kita akan merasakan betapa bukan siapanya diri kita ini. Bisa hidup pun sudah merupakan anugerah illahi....benaaaar.....?!...


Hah, helaan nafas ini kembali aku nikmati. Pemandangan dari mata ini juga kembali aku syukuri. Hamparan perkebunan teh ini begitu hijau ranau, benar-benar telah memenuhi klasifikasi keindahan. Belum lagi rasa yang ada dari daya gravitasi ketika motor ini berkelok kekiri lalu kenanan....itu adalah amaging. Tuhan, maafkanlah aku. Tuhan, “tersenyumlah” kepadaku. Aamiin.

Talegongpun telah tiba aku padanya. Pertigaan ini adalah antara kenyataan dan kenangan. Lima tahun yang lalu ini adalah kenangan, dan hari ini adalah kenyataan.

Dulu jalan yang ke kanan ini hanyalah tanah berbatu kasar, belum menjadi jalan. Dan kini jalan ke kiri itu jalan yang telah menjadi usang. Ke kiri itu indah pemandangannya, tetapi terjal curam sekitarnya...jika longsor terjadi itu adalah horor diatas horor. Tebingnya berkerikil batu bercampur pasir....yang sering terjadi longsor. Jadi ke kanan adalah pilihan terbaik saat ini. Ke kiri juga jauh jaraknya dan kurang mulus aspalnya. Tapi memang lebih eksotis pemandangannya, sudah dua kali aku lewat sana.Bahkan juga pernah turun ke bawahnya ke kampung yang ada dibawahnya, itu indah juga. Kampungnya benar-benar beda. Mungkin seperti bagian dari swiss atau lembah pegunungan alpen di Perancis.Meureun soteh....!


Memang aku gak mau liburan kali ini berlalu seperti biasanya. Bolehlah jalan-jalan.
Menelusuri jalan talegong ini harus hati hati, karena jalannya turunan yang tajam. Juga kadang belokannya juga tak terduga, jangan terlalu kencang sebelum kita mengetahui dengan jelas kondisi jalannya. Takut bablas soalnya.

Entahlah, apakah Garut selatan ini sebaiknya tetap menjadi hutan atau menjadi tempat yang dihuni banyak manusia. Saya pengennya hutanya itu tetap lestari, janganlah di buka menjadi perkebunan atau bahkan persawahan. Sebab efeknya sangat bersifat domino. Tetapi nampaknya semua telah dibudidaya oleh manusia. Semoga itu tetap terkendali agar ada keseimbangan lingkungan.


Enak sekali jalanan kesini buat riding. Terasa banget kontur jalannya, belokannya, naik turunnya. Mungkin seperti roll couster. Meureun soteh....!, da akumah tara piknik ka Ancol.

Ke alam lebih cocok buat aku. Indahnya itu asli, segarnya itu beneran. Sering aku mengenang jalanan di sini, sebab ini memang jalan kenangan buatku. Sampai kemudian akupun berhenti disebuah mushola biru. Mushola yang tak asing buatku, semua masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Bahkan tempat wudlu nya pun masih identik sekali. Cuman airnya terasa tak se dingin di masa itu. Di kala aku masih bersamanya. Eaaa.....!

Tapi bukan aku palmboyan, atau suka mengenang. Ini adalah penghargaan dariku, karena bagiku kebaikan masa lalu tak boleh dilupakan begitu saja.

Waktu itu jalan kesini ini masih merupakan jalan desa dengan aspal kelas terbawah. Bawa motor pun rata-rata 10 km/jam. Tapi masa itu tempat ini lebih eksotis jadinya. Lebih alamiah.

Betapapun begitu, keindahan tempat ini tidaklah dikata pudar. Bentangan alam pegunungannya masih ada, dan sungai nun jauh di dasar lembahnya juga masih bisa di nikmati. Namun satu yang tak aku temukan adalah warung nasi yang tepat di puncak sebuah perkampungan, tempat dulu aku berhenti membeli nasi karena hujan waktu itu.

Dan jalanan yang dulu juga lebih berbahaya karena banyak material tanah longsor, terlebih jembatan juga masih berbahan kayu kayu. Melewatinya butuh nyali tambahan. Tapi sekali lagi itu sungguh menyenangkan, ingin sebenarnya mengenang masa itu kembali tapi itu tak kan pernah terjadi lagi.

Laguna, yah laguna yang indah dengan tiga umpak curug. Kali ini sangat ramai dikunjungi orang. Banyak orang bermandi disana. Beberapa pepohonan juga sudah tidak ada, jadi suasananya telah berubah menjadi lebih “lenglang” terbuka tak ada keteduhan lagi.

Air terjun yang ada di sisi jalan, di samping sebuah tenda kedai kopi itu juga telah sirna. Airnya tinggal sisa lelah saja, tak ada kucuran memancar seperti tiga tahun yang lalu. Jangan harap ada lagi “katumbiri” yang warna warni menghiasinya. Sungguh aku merasa heran kok itu menghilang juga. ada apa...?

Mungkinkah karena alam sudah bosan dengan kita, atau sudah tak mau bersahabat lagi. Sungguh miris aku merasakannya. Entahlah aku masih berharap itu hanya situasional semata. Aamiin.

Tetapi yang jelas tempat ini sekarang memang sudah lebih terbuka, lebih mudah orang datang kesini. Implikasinya tentu kealamiahan tempat ini segera akan terus berkurang. Syukurnya adalah, sempatnya aku mengunjungi ini dikala itu. Jadinya aku bisa membedakannya dan bisa merasakan keindahan dimasa lalu. Bukan sekedar cerita.


Hal yang masih ada disini adalah, kepedulian penduduknya terhadap keselamatan pemakai jalan. Dulu sewaktu jalanan buruk ada beberapa pemuda yang siap membantu kita menaiki terjalnya jalanan yang licin. Sekarangpun bisa kulihat beberapa penduduk yang sukarela standby dilokasi-lokasi berbahaya karena longsor, memberi tahu para pengendara dan mengatur dengan buka tutup jalanan. Tentu amat wajarlah mereka mendapat upah atas jasanya itu, jangan pelit.


Rancabuaya aku telah kembali lagi, semoga engkau tak bosan kepadaku. Semoga pula aku juga tak bosan kepadamu.


Sayang sekali, nampaknya pantai disana benar-benar tidak dirawat dengan seharusnya. Sampah berserakan, penduduk juga bahkan menyapu dari halamannya menuju ke pantai. Ah sungguh biadab...sungguh tak beradab.


Sekian.....