Tampilkan postingan dengan label Job and Adventures. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Job and Adventures. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Februari 2020

Cidaun Dulu dan Kini feat Rancabuaya


Cidaun Yang Dulu dan Cidaun yang Kini.
Kali ini, akhirnya kami bisa kembali merasakan kebersamaan. Refresh itu penting supaya semangat tetap tumbuh. Suasana bathin yang baik ini kiranya dapat kita kenang lebih lama lagi.
Cidaun yang menyimpan kenangan-kenangan kita. Bersama pantai dan suasana pesisir selatan yang tiba-tiba menjadi molek kembali. Ini adalah halaman kita lainnya, merasa bersyukur atas karunia penciptaanNya. "Jawa Barat memang tercipta ketika Tuhan sedang Tersenyum".
Merasakan udara pesisir kembali adalah baik buat tubuh ini. Merasakan dinginnya air laut selatan adalah bagaikan air accu / aki yang sudah di strum kembali. Menjadi tambahan energi untuk melanjutkan perjuangan dalam kehidupan ini. Itu adalah anugreah besar yang Allah SWT berikan buat kita semua. alhamdulillah.

Cisompet Indah

DEMI MENERANGI BUMI




Preambule (bukan pembukaan UUD 45 ya...)
Pekerjaan itu harus dinikmati, sebab kalau tidak dinikmati akan terasa berat. 
Pekerjaan itu harusnya adalah kesenangan juga, jadinya tak menjadi beban hidup. 
Pekerjaan memang tak boleh main-main, harus serius. Sebab jika dikerjakan dengan sepenuh hati maka hasilnya juga menyenangkan hati. 
Hiduplah menjadi easy going, gak boleh rudet.

Namun adakalanya hasil pekerjaan tidak sesuai dengan perencanaan, banyak kendala yang kadang harus membuat kita beralih ke Plan B. 
Memang pekerjaan dilapangan harus bersifat dinamis, gak bisa kalau harus statis. Itu karena keterkaitan erat dengan berbagai hal external antara lain cuaca yang berubah-ubah, pihak kedua dan ketiga maupun pihak internal sendiri. 
Itulah mengapa manajemen juga adalah seni mengatur situasi dan kondisi.

Plan B harus segera dimodifikasi lagi disesuaikan dengan setiap keadaan yang real terjadi dilapangan. Kamu tak boleh terpaku kepada rencana yang kaku. Nah dalam hal ini seringkali menjadi kabur batasan antara dinamis dengan skeptis atau dengan sikap negatif lainnya. Karena merasa harus dinamis, bukan pula meniadakan rule atau batasan-batasan. Semua harus tetap dalam koridor perencanaan untuk mencapai goal yang terbaik. 
Demikin.

Seperti itulah pekerjaan Listrik masuk Desa ini. 
Jika Plan A tak berjalan maka harus ada Plan B. 
Mungkin akan terdapat segresi, degradasi, atau distorsi dan disposisi, atau apalah namanya itu. 
Itu adalah lumrah karena Plan A tak bisa sama dengan Plan B. 
Pasti ada perbedaan hasil, terutama terkait waktu dan biaya total.
Maka sebenarnya, resources itu harus dapat dengan tepat tersedia sesuai Plan A jika hasil yang diinginkan adalah yang terbaik. 
Sumber Daya itu menentukan keberhasilan suatu proyek pekerjaan. 
Keterbatasan sumber daya itu harus bisa diatur sedemikian rupa agar hasil yang diperoleh tetap maksimal. 
Tak boleh ada alasan, tak boleh ada sifat permisif sebelum dibuat Plan B nya. 
Berbeda hal jika untuk Plan B pun menjadi tidak mungkin. 
Maka resiko harus dapat diterima.


Yah itulah, sedikit analisa terhadap pekerjaan ini. 
Selalu menarik untuk dapat di siasati. 
Sabisa-bisa kudu bisa.

Untunglah dibalik keterbatasan resources yang ada, tidak membuat pekerjaan menjadi terhenti. Dan kita tetap bisa berjuang dan melaju semaksimal mungkin adanya.

Pekerjaan Listrik Desa di jaman now, tentu berbeda dengan di masa lalu. Variable yang dihadapi nya juga sudah berbeda stratanya. 
Namun pada umumnya sama saja, memasuki perkampungan terpencil selalu menyuguhkan keindahan tersendiri. Sebab mayoritas kehidupan disana masih sangat tertinggal berbeda dengan lingkungan lainnya, selalu ada beda. Hal itu diakibatkan keterisolasian. Disatu sisi itu negatif tapi dari sisi konservatif itu adalah positif. Selalu ada dua sisi mata uang.

Dari segi geografis pun Lisdes jaman now, mayoritas terdiri dari perkampungan dalam. Bahkan mayoritas wilayahnya berupa permukiman yang masuk jauh ke tengah perhutanan. Sarana pra sarana transfortasipun hanya berupa jalan setapak yang berupa tanah biasa atau kalau tidak masih berupa bebatuan kasar. 
Memprihatinkan memang, belum lagi dari sisi topografisnya pun sangat sulit untuk dijangkau pembangunan.


Dibalik sisi minor tersebut, ternyata seringkali terdapat sisi lainnya yang cukup menarik dimata penulis. Yaitu keindahan alamnya. 
Beberapa diantaranya layak untuk diangkat menjadi kawasan kepariwisataan, beberapa lainnya lebih baik dikembalikan menjadi hutan lindung mungkin. 
Atau kalau tidak minimal permukiman terbatas saja.  
Bandung, 01 Februari 2018




Keindahan Batu Tumpang
Berada di dekat perkebunan teh Cikajang, Batu numpang menjadi semacam rest poin yang cukup bagus. Dulu sewaktu pertama kali liwat disana hal pertama yang ada dibenak penulis adalah amazing places....

Pemandangan disekelilingnya juga sungguh ajaib, sepanjang mata memandang terhampar landscape yang aduhai. Luar biasa indahnya. 
Yang kedua kali kesana, pemandangan tetap mempesona apalagi waktu itu bertepatan dengan tahun baru sehingga suasananya terasa beda.

Kini, penulis mendapat tugas pekerjaan ke Pelosok Garut. Sehingga bisa berkesempatan untuk mengunjungi banyak lokasi indah di kabupaten yang indah ini. Termasuk juga ke Batu Numpang. 

Indah untuk sejenak beristirahat disini, apalaagi hujan juga sudah mulai turun membuat perut pun menjadi lapar. Dinginnya udara disini terasa menusuk kedalam tulang, “ngahodhod” sekali. 

Maka perapian dari tungku atau “hawu” menjadi semacam penemuan terbesar diabad ini. 
Lapar menjadi hilang, “kabulusan” menjadi lenyap. 
Tapi perut menjadi masuk angin, 
untunglah disini sudah ada toilet umum, 
mushola dan juga warung-warung. 
Tuntas dan “blaz” semuanya. 
Alhamdu.....lillah.




Panorama alam Cisompet
Belum, belum sih kalau menjelajahi semuanya secuilpun belum barangkali. 
Tapi kalau sekedar lumayan sih alhamdulillah sudah. 


Hanya di sekitar direksi kit, pemandangan sudah cukup mempesona. Ada bukit batu yang dilingkupi pepohonan hijau, ada juga hamparan perkebunan teh yang hijau, ada juga balong-balong atau empang para penduduk. 

Dan jauh disana terlihat cucuran air dari pucuk bukit menerpa bebatuan kuat dibawahnya. 
Sungguh indah panorama kuasa Illahi ini, menyegarkan penglihatan saja. 
Kelak tentu kiranya akan menelusurinya, apalagi ada lokasi kerja ke arah sana menjadi semacam durian yang runtuh didepan mata. 
Tak boleh disia-siakan kesempatan ini untuk juga bisa mentafakuri penciptaan Allah SWT. 
Luar biasa. 
Tapi entah apa nama curug itu, belum juga itu terexplore, muncul lagi pemandangan lainnya yang kudapat. 
Curug lainnya. 
Yaah itu semakin meyakinkanku bahwa ini adalah orkestra dari alam pakidulan Garut yang indah mempesona.

Dan yang paling aku suka disini adalah jalannya. 
Ini jelas lebih baik dibanding jalur Pangalengan. 
Baik sekali untuk melakukan cornering. Belok ke kanan langsung kekiri, belok kekanan lagi langsung belok kekiri lagi, itu berlangsung berkali-kali dengan kemiringan jalan yang sangat bagus. 
Seandainya seluruh jalur disini beraspalt sempurna tentu itu akan semakin menyenangkan sekali. 

Setahun yang lalu waktu meliwati jalur ini beberapa kali penulis berhenti demi untuk menikmati panoramanya, itupun belum semuanya bisa terexplore sebab waktu yang tidak memungkinkan. Dan sekarang pun sama saja, waktu sudah terlalu gelap dan licin karena hujan. Jadinya gak bisa cornering dengan sebenarnya.  
Tapi aku berjanji untuk melakukannya dikemudian hari, esok atau lusa. 


Hal yang selalu mengkhawatirkan adalah, kecenderungan akhir-akhir ini yang terjadi di hampir seluruh pelosok pegunungan di Jawa Barat ialah perambahan hutan. 
Itu jelas akan sangat dengan cepat mendegradasi kualitas lingkungan hidup yang mengancam keseimbangan ekosistem didalamnya yang akhirnya bisa berakibat kepada lenyapnya keindahan yang mahal ini. 

Barangkali beberapa tahun didepan air sungai mulai bertambah surut, curug-curug menghilang, keteduhan menjadi sirna. Sungguh itu sangat mengerikan. 
Bisakah kita sedari dini bisa mencegah dan menghentikan pengrusakan karunia Illahi ini....???.

Sebelum terlambat, seharusnya kita mulai melakukan kampanye sadar lingkungan. Melakukan edukasi terencana kepada khalayak masyarakat Indonesia agar bisa menghargai kekayaan alam kita. 

Hutan ini bukanlah milik individu semata, itu adalah milik kita secara kolektif. Jadi gak benar jika ada masyarakat yang dengan serakah membabi buta membabat hutan untuk kepentingan sendiri. Ini sungguh ironi. Sungguh miris, dan sangat disesalkan.

Kebutuhan akan pangan memang mendesak, kebutuhan akan sandang memang penting. Tetapi bukan berarti itu menghalalkan segala-galanya. Tetap harus sesuai batasan yang ada. Ada hak orang lain, ada hak alam lingkungan. Itu terkait tanggung jawab umat manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini. Demikian.


Cipanas Garut.
Inilah yang paling diingat orang tentang Garut, Cipanas.

Pemandian air panas di Garut ini memang sudah terkenal keseluruh Jawa Barat dan DKI. Setiap akhir pekan banyak dikunjungi wisatawan yang hendak berendam dengan air hangat yang baik untuk kesehatan tubuh manusia. 

Kalau ingin lebih murah datanglah di hari kerja, dihari senin sampai jum’at. Harga penginapan bisa setengah dari harga akhir pekan. Enaknya berendam di pemadian Cipanas Garut ini karena selain pas hangatnya juga ia mengandung belerang yang baik untuk kesehatan kulit. Apalagi bagi kita yang hidup di bumi katulistiwa, yang penyakit kulit lebih mudah bisa menyerang tanpa pemberitahuan. 

Salah sedikit merawat tubuh, penyakit itu akan segera menyerang. Malas mandi, malas ganti pakaian dll menjadi sebab tumbuhnya penyakit kurap, panu dan kudisan. Gak oke banget bukan...?

Tetapi orang datang ke Cipanas Garut ini janganlah dengan tujuan untuk berobat demikian, itu sungguh tidak elegan. Banyak sekarang obat-obatan yang lebih tepat untuk mengatasinya. Bukan dengan berendam dilingkungan umum, dikolam yang ditempati banyak orang sebab itu membuat gak nyaman bagi orang lain.


Datang ke Cipanas Garut ini, tujuan utamanya adalah memang untuk menikmati kolam air yang hangat. Bisa berlama-lama bermain air, berenang dan berendam bahkan sampai larut malam sekalipun. Itu adalah kenikmatan tersendiri. Bisa olahraga sambil rekreasi, nyaman bagi tubuh sehingga esok kerja bisa lebih presh lagi.


Say no to drug, say no to prostitusi, say no to free sex. 
Garut harus lebih menghargai ulamanya, menghargai agama, menghargai diri, menghargai Allah SWT. 
Jauhi maksiat dikota ini. Itu akan mengundang penyakit, itu akan mengundang bala bencana. Dengan merebaknya perilaku dosa maka umat manusia menjadi tidak sehat lagi, menjadi tidak normal lagi. Hilang kearipan, hilang budi pekerti, hilang akhlakul karimah.

Penulis sendiri menjadi ketagihan untuk bisa berendam lagi disana, nanti lain kali kalau ada rezekinya akan menyempatkan waktu untuk berenang lagi disana, di Cipanas Garut yang Indah.

Hati-hati umat manusia, sebab air panas yang merupakan karunia dari alam Ciptaan Allah SWT itu bukan untuk perilaku dosa, tetapi untuk kemaslahatan umat manusia. Jangan sampai gunung Guntur yang gagah itu “murka” dan melenyapkan semuanya. Ingat itu...!!!

Manusia gak bisa bebas memperturutkan hawa nafsunya, harus ada norma, harus ada agama yang bisa mencegahnya. Maka kita harus bisa ingat dan kembali kepada ajaran-ajaran luhur itu. Bangsa kita bangsa berbudaya luhur, bangsa yang kuat, bangsa yang berbudi tinggi. Jangan semua jadi luntur apalagi sirna ditelan waktu. Naudzubillahi min dzaalik. Aamiin.




Kampung tiga Jembatan.
Ini adalah lokasi pekerjaan Listrik Desa di Kecamatan Pamulihan Garut Selatan. Nama kampung sebenarnya ialah Cikombong, Cikombong hilir dan Kampung Ranca Boled ?, Sungainya adalah Cibatarua, Cikandang dan Cipenengen. Air mengalir jauh, sangat deras meliwati lembah-lembah yang dalam...berliku-liku dan jernih sekali.

Kalau kalian pernah mendengar curug Sanghyang Taraje, maka itu ada disini. 
Mengalir diatas sungai Cikandang. Selain curug Sanghyang Taraje ada juga curug Cikandang itu sendiri. 

Kampung Cikombong ini berada diantara dua sungai itu, Cikandang dan Cibatarua. Sementara kampung ranca Boled berada diantara Cibatarua dan Cipenengen. 
Ketiga sungai itu tak lah berjauhan, berdekatan. Lembahnya yang hijau, dengan aliran sungai Cibatarua yang deras mengalir dari hulu sampai jauh ke laut selatan sana. Garut memang luar biasa kaya sumber daya alamnya, dan juga indah-indah.


Memang jalur untuk ditempuh ke lokasi ini tidaklah disebut mudah, kondisi jalan sangat kecil dan sangat terjal. Mobil avanza yang kami tumpangi ini pun sampai gak kuat lagi. Mati di tanjakan yang panjang dan terjal. Kami harus segera turun, dan mengganjalnya supaya dia bisa kembali jalan. 

Jurang ada si sisi kirinya membuat ini semakin berbahaya. Dan beberapa titik lainnya jalanan berada diantara dua jurang, kiri dan kanan, dalam sama dalamnya. Curam sama curamnya. 


Curug Sanghyang Taraje itu jelas terlihat dari punggung bukit ini, airnya deras dan volumenya cukup besar, memiliki dua pancuran yang besar dan yang satunya lebih kecil. 
Untuk bisa mengunjunginya, kita harus menuruni jalan setapak yang menuruni lereng bukit ini. Sayang sekali ini hari sudah sore, kami tak sempat mengunjunginya kesana. Cukup tahu dari kejauhan saja.

Apalagi kami tidak sendirian, kami bukan kata tunggal, kami bersama yang lainnya. Dan cuaca juga sedang tidak mendukung, karena hujan yang kelihatannya masih lama lagi.


Demikianlah catatan di akhir Januari 2018 ini, semoga bermanfaat buat kita semuanya. Aamiin.

Pakenjeng Garut (Curug Sanghyang Taraje)

EDISI GARUT “the PROVINCE” 

Curug Sanghyang Taraje...

Berlokasi di kampung Kombongan, curug ini berada di bawah lembah, sehingga untuk sampai kesana kita harus menuruni jalan setapak yang menurun dengan anak tangga yang tentu banyak sekali.
Jalan menuju ke Curug ini adalah dari Garut menuju kecamatan Cikajang.

Dari Cikajang kita belok ke kanan ke arah Bungbulang. Terus saja ikuti jalan tersebut, melewati komplek TNI, melewati perkebunan Rakyat, perkampungan-perkampungan dan juga tibalah kita nanti di sebuah perkebunan teh yang aduhai....

Perkebunan yang terlihat beda dari yang pernah kita lihat di tempat lainnya. Tentu saja karena alam disini juga tentu tak sama dengan alam di tempat lainnya.

Nah, dari perkebunan tersebut, kita masih harus terus melaju menurun ke Arah kecamatan Pamulihan.

Kebon Teh Neglasari Garut

EDISI GARUT “the PROVINCE” (NEGLASARI)

Perkebunan Teh Neglasari sungguh amat nyata,
Airnya, udaranya, sejuknya, embunnya, perkebunannya dan segala pemandangan yang dimilikinya.

Semuanya nyata dan dapat dirasakan keberadaannya. Itulah hal pertama yang bisa kita jumpai disini. Air terjun adalah hal kedua lainnya yang menjadi satu keajaiban alam dari kampung Neglasari. Dan terutama juga adalah sisi budaya masyarakat disini. Sungguh ngangenin. Itu adalah seperti sedang berada di negeri tempo dulu saja. Suasananya, bahasanya, udaranya, lantunan pengajiannya, dan semuanya.

Gunung Tilu _ Patuha

GUNUNG TILU - PATUHA


Tempat yang tidak diketahui ini ternyata sungguh menakjubkan. Pantaslah negeri Belanda begitu ngotot ingin terus bercokol di Indonesia, karena begitu beragamnya aneka kekayaan dan hasil bumi dari Indonesia ini. Salah satu kekayaan tak ternilai itu adalah Gunung Tilu dan Gunung Patuha di daerah Bandung Selatan ini.


Pertama kali tiba disana penulis sempat berpikir, mungkin inilah yang disebut kekayaan Indonesia itu.
Lokasinya jelas tidak diketahui banyak oleh umum, karena untuk mencapai wilayah indah ini kita harus melewati perkampungan dengan jalan yang tidak mudah untuk dikenali. Hanya karena tugas pekerjaanlah maka sang penulis pun bisa beruntung mengenal sedikit daerah tersebut. Jika tidak ada tugas pekerjaan, penulis mungkin tak akan pernah menginjakkan kaki ke daerah ini. Selain karena tidak dikenal luas oleh masyarakat juga tempatnya tersembunyi dibalik bukit dan gunung. Perlu kurang lebih dua jam dari Bandung (dengan jarak -+ 50km) untuk bisa sampai ke lokasi tersebut padahal tempatnya tidaklah terlalu jauh dari Ciwidey. Tapi karena jalannya masih terbilang kecil dan buruk menjadikannya seakan tidak dekat lagi.


Jika kalian termasuk orang yang menyukai alam, maka Gunung Tilu-Patuha ini adalah termasuk tempat yang mustinya harus kalian kunjungi, tapi ingat kemanapun kita pergi jangan meninggalkan sampah secara sembarangan, bawalah kembali sisa-sisa bawaan dan sampah yang sifatnya tak teruraikan seperti plastik, kaca beling dll. Jadilah manusia bertanggung jawab dan jangan jadi manusia yang tak berakhlak dan tak berpendidikan. Coba pikirkan, orang yang buang sampah sembarangan itu sama artinya dengan membebani alam dan orang lain. Dengan kata lain itu adalah perbuatan jahat dan dzolim. Orang dzolim niscaya tidak akan mendapat selain balasan daripada perbuatannya tersebut, dunia-akhirat.

Itulah rumus penting buat kita sebagai umat manusia yang punya akal dan juga punya hati nurani. Jadilah manusia seutuhnya yang intelek dan berkualitas tinggi. Amin.
Kembali ke Patuha.


Di kawasan Hutan ini khususnya di Cagar Alam Gunung Tilu, kita bisa dapati alam yang terbilang masih alami. Disebelah kiri jalan menuju Patuha kita akan dapati pepohonan rapat dan rindang menutupi perbukitan dan hutan. Tidak terlihat ada jejak manusia yang masuk ke dalam hutan tersebut, semuanya tertutup oleh tetumbuhan yang rapat. Kita bisa mempercayai apabila dikatakan disana masih ada didiami oleh beragam flora dan fauna yang langka seperti  jenis pepohonan tertentu dan juga jenis hewan tertentu.

Namun anehnya, justru disebelah kanan jalan tidaklah demikian adanya. Hutannya sudah tidak alami lagi, melainkan sudah melalui peran serta tangan-tangan manusia. Apalagi bila kita terus menuju keatas lagi maka ternyata disana sudah merupakan perkebunan dan bahkan ada perusahaan pembangkit listrik tenaga panas bumi alias PLTP.


Diatas sana ternyata merupakan perkebunan teh yang cukup luas, sehingga sudah jadi maklum apabila terdapat perkebunan disuatu tempat yang masih produktif maka kemungkinan ada perkampungan yang dihuni oleh para pegawai pemetik teh tersebut. Begitupun di Perkebunan Rancabolang ini. Perkampungan yang sangat terpencil dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan umumnya. Untuk sekolah saja harus menempuh jalan yang cukup jauh, apalagi hendak ke Pasar atau Mall. Harus meliwati hutan yang gelap dan kebun yang luas. Tapi kalau bicara keindahan dan kesejukan alam maka disini termasuk juaranya. Suasana kampungnya masih tradisionil, masak memasak masih menggunakan kayu bakar. Dan air yang mengalirpun masih sangat dingin bagai air kulkas saja.

Jika kalian main ke perkampungan tersebut maka kalian akan masih mendapati masyarakatnya yang masih “cinduru dihareupeun hawu”, dan kaum lelakinya masih “cinduru di golodog” dengan sarung atau jaket yang tebal dan juga kupluk dikepala. Tak ada banyak kegiatan mereka manakala langit juga mencurahkan airnya. Apalagi kegiatan rutin mereka sudah jelas, yaitu menjadi pemetik dan pemelihara perkebunan teh. Hampir tak ada kegiatan lainnya, sehingga disaat senggang tak lain hanyalah bisa cinduru karena udaranya yang dingin, dan hendak mandipun harus sudah keterpaksaan semata. Yaitu terpaksa karena sudah seminggu tak mandi misalnya, atau “terpaksa” karena kewajiban untuk bersuci dan beribadah misalnya. Jadi kalian bisa coba sendiri datang ke kampung tersebut.

Walaupun demikian terisolirnya, tetapi sesungguhnya pengetahuan mereka tentang kelistrikan bisa jadi lebih tahu dibanding kebanyakan masyarakat pada umumnya. Kalau masyarakat Indonesia umumnya hanya mengenal listrik itu dalam bentuk jadi yang disiapkan oleh PT.PLN, maka disini lain lagi. Justru merekalah sendiri yang bisa menghasilkan energi listriknya untuk kebutuhan masing-masing rumah mereka. Mereka memproses dari titik nol hingga outputnya berupa energi listrik. Yaitu melalui mikro hydro. Sehingga bisa dikatakan bahwa mereka lebih berpengalaman dalam hal menciptakan energi listrik dibanding masyarakat lainnya yang kebutuhan listriknya sudah dipasok oleh PLN.


Nah dalam rangka Listrik Desa inilah penulis bisa nyukcruk ka ujung perkampungan seperti kampung-kampung yang ada diperkebunan teh Rancabolang ini. Di kawasan perkebunan ini setidaknya ada 4 atau lima perkampungan kecil dengan jumlah penduduk yang sangat sedikit sekali. 

Ada Rancabali, Kampung Galih (17 Rumah), Cipaku (7 Rumah) dan Lengkob (12 Rumah), serta satu lagi diujung jalan perkebunan ini yang belum penulis kunjungi yaitu kampung Cikole. Tapi disetiap kampung yang penulis kunjungi ini pasti ada masjid atau mushalanya, itu yang sangat menentramkan jiwa kita. Bahkan di salah satu mesjid yang terbesar di Rancabali ini, kita bisa menyaksikan anak-anak yang sangat bergairah ikut pengajian. Itu juga menyenangkan hati kita, sebab dengan demikian menandakan bahwa sisi keagamaan mereka tidaklah kosong. Alhamdulillah pula dalam dua kesempatan ke sana, penulis bisa merasakan sholat di tiga mesjid yang ada di Lengkob, Galih dan Rancabali tersebut. Penting untuk bisa hadir dirumah-rumah Allah SWT. Semoga menjadi do’a yang baik buat penulis sendiri, amin.

Sesungguhnya penulis berharap semoga hutan-hutan kita bisa tetap lestari dan terjaga dengan baik, karena itu menunjukkan adanya kearifan kita sebagai manusia yang modern. Karena jika hilang hutannya, maka hilang pula kesuburan tanahnya dan hilang pula sumber mata airnya untuk kepentingan hidup kita semua. Bahkan juga itu berkait dengan sumber oksigen bagi pernapasan kita. 

Jadi janganlah menjadikan diri kita menjadi manusia “bodoh” dan egois yang serampangan membabat hutan demi kekayaan pribadi, itu adalah perbuatan merugikan alam dan juga mengkhianati manusia secara keseluruhan. Itu sangat menyedihkan dan memalukan. Kita malu jika kita termasuk manusia yang tidak beradab dan tidak berperilaku baik terhadap alam ini. Juga malu sebagai manusia egois yang mementingkan dirinya sendiri dengan merugikan kelestarian alam dan bumi ini. Juga malu jika kita menghalalkan segala cara demi politik, kekuasaan dan uang partisan dengan mengorbankan akhlaq, agama dan kebenaran dll. Marilah kita menjadi manusia berguna, yang tidak murahan dan juga tidak egois.

Tetapi zaman sekarang ini, memang jauh dari harapan. Hutan makin berkurang dan terus terancam berkurang lagi. Pembalakan hutan terjadi dimanapun juga. Hutan-hutan yang rimbun dengan pepohonan dan semak kini telah berganti menjadi ladang dan kebun pertanian untuk cabai, tanaman kol, wortel, kentang dll.

Desakan pertumbuhan penduduk jelas menjadi penyebab utama dari kondisi sekarang ini. Belum lagi karena keserakahan para pemilik modal dan kaum kapitalis yang justru notabene bukan penduduk lokal. Mereka datang dari kota-kota besar, untuk memusnahkan hutan-hutan dan digantinya menjadi perkebunan kelapa sawit. Mereka menjadi semakin kaya raya dengan merampas kekayaan hutan kita, menjadikan hutan lenyap dan itu kerugian bangsa dan negara yang tak ternilai harganya.

Itulah sekilas kenyataan tentang hutan-hutan kita. Pun juga di Hutan Gunung Patuha ini, sebagian besar lahannya sudah mulai dirambah tangan-tangan manusia untuk berbagai tanaman hortikultura dan sayuran. Disisi ekologi jelas itu adalah satu kerugian besar karena akan mengurangi tutupan hutan.

Pepohonan menjadi jarang dan tidak rimbun lagi, begitupun dilantai hutan menjadi semakin bersih dari semak belukar yang mengakibatkan tanah semakin mudah tergerus erosi. Akibatnya air menjadi sangat sulit terserap bumi, sebaliknya semakin mudah dalam mengakibatkan banjir dan longsor. Unsur hara pada lapisan teratas bumi semakin lama semakin berkurang, dan akibat buruk jangka panjangnya adalah hilangnya tingkat kesuburan tanah yang bisa mengakibatkan hutan menjadi gersang dan kemudian menjadi gurun yang tandus. Naudzubillahi min dzaalik.

Oleh karena itu perlu adanya gerakan massal dan juga pendidikan yang menyeluruh agar bangsa Indonesia bisa lebih menghargai kekayaan hutannya yang tidak dimiliki oleh kebanyakan bangsa-bangsa didunia lainnya itu. Namun sayang pemerintah nampaknya kekurangan energi untuk memperhatikan semua ini. Dan kita sebagai bangsa Indonesia harus mulai merasa prihatin atas keadaan yang demikian kompleks ini. Kita akan butuh pemimpin yang tidak berorientasi kapitalis, kita akan membutuhkan pemimpin sejati yang bisa membuat negara kita jaya sejaya-jayanya.

Jangan sampai kita terlambat dalam mengantisipasi semua ini, sehingga kita perlu segera menyadarkan diri kita semua agar kita lebih perhatian terhadap kondisi di lingkungan kita ini. Kitapun tak boleh acuh tak acuh sebab persoalan yang kita hadapi saat ini akan berakibat buruk terhadap kesejahteraan kita saat ini dan juga bagi seluruh anak cucu kita kelak. Kita harus bersikap protektif terhadap sumberdaya alam kita ini agar kelangsungan bangsa Indonesia menjadi semakin terjaga untuk kedepannya. Kalau bukan kita yang peduli, lalu siapa lagi yang akan peduli...?.

Wassalam...!